<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618</id><updated>2011-04-21T13:26:02.064-07:00</updated><title type='text'>Andios' Reflection Room</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618.post-116314636078478133</id><published>2006-11-10T00:11:00.000-08:00</published><updated>2006-11-10T00:12:40.846-08:00</updated><title type='text'>BUDAYA “TEPO SLIRO” DITINJAU DARI PERSPEKTIF TEOLOGI SOLIDARITAS: SEBUAH UPAYA UNTUK MENDUKUNG PERWUJUDAN KEADILAN SOSIAL POLITIK DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDAYA “TEPO SLIRO” DITINJAU DARI PERSPEKTIF TEOLOGI SOLIDARITAS: SEBUAH UPAYA UNTUK MENDUKUNG PERWUJUDAN KEADILAN SOSIAL POLITIK DI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indonesia saat ini masih berada dalam suatu krisis multidimensi yang tak kunjung henti. Krisis moneter yang dimulai pada tahun 1997, hanyalah sebongkah kecil gunung es yang akhirnya menggelinding semakin jauh dan semakin besar. Krisis ekonomi mau tidak mau membawa pengaruh kepada krisis di bidang sosial, politik, budaya, hukum dlsb. Salah satu krisis yang paling menonjol adalah krisis keadilan sosial politik. Krisis ini semakin memuncak karena berkaitan dengan ketiadaan dan kevakuman kepastian hukum, semakin rendahnya kesadaran berbangsa dan bernegara karena semakin dangkalnya pemahaman tentang "to be one nation and how to govern the nation," lunturnya semangat persatuan dan kesatuan, serta budaya “tepo sliro” apalagi kepedulian sosial. Ini semua merupakan akibat dari begitu kuatnya pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme.” Sejarah serta kejayaan bangsa Indonesia, perjuangan para pahlawan bangsa dan keluhuran budaya Indonesia mengalami "pembusukkan dan degradasi". Nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia mulai terasa kurang pengaruhnya dan justu digantikan dengan budaya mega-korupsi yang kian kebablasan. Victor Silaen, seorang pengamat politik muda mengatakan, "...krisis dahsyat yang terjadi dewasa ini sebenarnya adalah krisis moral, mental dan spiritual." Dari sini kita bisa melihat betapa akar permasalahan ini begitu kompleks dan rumit, sangat dipengaruhi runtuhnya nilai-nilai luhur bangsa yang rela dikorbankan demi kepentingan pribadi dan golongan.&lt;br /&gt;Proses pendegradasian  ini memang mau tidak mau terkait erat dengan rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Haji Mohamad Suharto yang telah berhasil menjalankan kepemimpinan "diktator nJawani" yang menciptakan suatu sistem negara yang korup dengan motto: “witting trisno jalaran soko kulino”, penuh KKN yang mengabaikan hak azasi manusia serta demokrasi demi mencapai tujuan pribadi. Semuanya merupakan bagian dari suatu "usaha pembangunan singgasana Cendana" dan ini membawa ekses-ekses negatif begitu rupa yang akhirnya berhasil digulingkan melalui "perjuangan reformasi" yang harus dibayar dengan harga yang begitu mahal: kerusuhan Mei 1998. Darah, nyawa, dan korban berjatuhan demi suatu "reformasi". Namun jikalau krisis ini seperti yang dikatakan Silaen menyangkut moral, mental dan spiritual, maka krisis ini berarti menyangkut seluruh bangsa Indonesia. Ini berarti bahwa "pembusukkan dan pendegradasian" moral, mental dan spiritual itu telah menyebar ke berbagai aspek masyarakat termasuk gereja (benarkah?).&lt;br /&gt;Terlepas dari semua akar dan penyebab krisis multidimensional ini, ada satu fakta yang tertinggal dan satu "pekerjaan rumah" yang tersisa yaitu ketidakadilan sosial politik yang bisa dilihat dalam bentuk-bentuk: kemiskinan, kemelaratan, kesenjangan ekonomi-sosial, pemerkosaan hak azasi manusia, pelecehan hukum dll. Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, "how to face these realities, how to solve these problems and how to do something in the midst of uncertainties and difficulties?" Tentu saja kita semua sebagai individu yaitu warga negara Indonesia yang exist dalam situasi seperti ini harus ikut berpikir dan bertindak. Gereja sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa harus juga berpikir untuk "ikut mengerjakan pekerjaan rumah yang tersisa ini." Emha Ainun Najib pernah mengatakan "kini saatnya kita bekerjasama mencuci piring setelah pesta usai."&lt;br /&gt;"Mencuci piring" itulah pekerjaan yang harus kita lakukan bersama-sama dan jikalau kita mau kembali kepada khasanah budaya Indonesia yang telah menjadi kebanggaan kita berabad-abad, maka kita perlu memiliki suatu sikap "tepo sliro" (tenggang rasa), tidak egois, tidak individu, tidak cuek dan disertai dengan semangat solidaritas yang tinggi kita bersama-sama menghadapi "pekerjaan besar yang ada".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memahami Krisis Keadilan Sosial Politik yang Terjadi di Indonesia: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suatu Refleksi Teologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seseorang yang memiliki dwi kewarganegaraan yaitu warga negara Indonesia dan warga kerajaan Surgawi, setiap orang yang mengaku sebagai murid Kristus, harus sadar bahwa dirinya masih berada di dalam konteks kehidupan yang nyata di negara Indonesia ini. Oleh sebab itu kita tidak mempunyai alasan apapun untuk bersikap apatis, cuek, tidak peduli dan masa bodoh terhadap situasi, kondisi yang ada di sekitar kita. T.B. Simatupang, seorang murid Kristus yang memahami imannya secara utuh pernah memaparkan suatu paradigma: positif, kritis, kreatif dan realistis di dalam memandang realita kehidupan bergereja, berbangsa dan bernegara. A.A Yewangoe mengatakan sebagai berikut,&lt;br /&gt;"di sinilah kita menemukan 4 kata (formula) yang menjadi pegangan bagi gereja-gereja di Indonesia, yaitu pada satu pihak Positif dan Kreatif (artinya mendukung dan bila perlu merintis perjuangan demi keadilan dan kehidupan manusia yang lebih penuh), dan di pihak lain, Kritis dan Realistis (berjuang melawan kecenderungan-kecenderungan demonis dan utopis dalam revolusi)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita sebagai orang percaya mampu mengintegrasikan iman dengan perbuatan kita ketika kita melihat fakta-fakta betapa tingginya jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, tingginya jumlah pengangguran, banyaknya siswa putus sekolah, tingginya angka kejahatan, ketidakadilan? Frans Magnis Suseno, seorang sosiolog melihat bahwa karena adanya kontras sosial yang besar, maka muncul suatu fakta bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang menjadi partisipan di dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi bangsa, sedangkan bagian yang lebih besar menjadi marsinal, artinya didesak ke pinggir dan tidak mempunyai pengaruh serta tidak diperhatikan. Dengan kata lain satu kenyataan yang memprihatinkan kita semua adalah mayoritas penduduk di wilayah Indonesia hidup dalam garis kemiskinan dan pernahkah kita membayangkan bahwa sementara bangsa ini mencoba keluar dari krisis, dengan usaha-usaha perbaikan ekonominya, penegakkan hukum dlsb, sebagian besar rakyat hanya bisa melihat dengan tangan terbuka, karena mereka harus mengalami betapa sulitnya mendapatkan sesuap nasi. Sementara sebagian kecil orang mampu menikmati kecukupan, kemapanan, bahkan kemewahan dengan segala bentuk atributnya, sebagian besar orang hanya bisa duduk termangu, bahkan tergeletak lesu, kelaparan….&lt;br /&gt;Oleh sebab itu sebagai sesama makhluk sosial yang dicipta dengan tuntutan untuk menjalin relasi dengan makhluk lainnya, setiap individu orang percaya harus kembali kepada hakekatnya semula yaitu sebagai makhluk sosial. Maka sama seperti Allah Pencipta kita yang senantiasa peduli dan bertenggang rasa terhadap umatNya, kita pun wajib memiliki sikap yang sama seperti Pencipta kita. Allah yang rela turun ke dalam dunia yang berdosa, yang tidak membiarkan ciptaanNya terlantar, binasa, namun yang justru menjumpai orang berdosa itu dalam relasi yang setara yaitu sebagai manusia. Allah yang menjadi manusia, merupakan suatu perwujudan kepeduliaan sosial yang begitu besar. Allah yang berinkarnasi telah menunjukkan "tepo sliroNya" yang agung dan melampaui pemikiran manusia. Ia yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Inilah wujud inkarnasi Yesus yang datang untuk menjumpai orang berdosa, yang hina dan terbuang. Yesus di dalam pelayananNya senantiasa menunjukkan kepeduliaan sosialNya, “tepo sliroNya” di dalam menjumpai kaum papa, yang miskin, kusta, nista dan berdosa, sebab untuk itulah Ia telah datang.&lt;br /&gt;Maka sebagai pribadi yang telah mengalami anugerah dan “tepo sliro” Ilahi, kita perlu memikirkan ulang hakekat iman yang integral dengan konteks hidup kita, yaitu iman yang membumi, iman yang menyentuh kehidupan sosial politik, iman yang mampu mentransformasi dan menunjukkan dirinya sebagai bagian dari insan Ilahi sekaligus makhluk sosial. Weinata Sairin dan J.M Pattiasina dalam Hubungan Gereja dan Negara dan Hak-hak Azasi Manusia mengatakan,&lt;br /&gt;“Iman kepada Yesus Kristus yang bersifat vertikal harus diwujudnyatakan dalam kesetiakawanan sosial, dan harus bersifat relasional dan horizontal dengan masyarakat lingkungannya, dan diaktualisasikan secara utuh dalam masyarakat serta mampu menyentuh semua aspek hidup manusia. Kebutuhan masyarakat Indonesia yang menjadi prioritas sekarang ini adalah perwujudan dari kebenaran, keadilan, kejujuran, ketulusan, hak azasi manusia dan kemitraan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi iman harus diaplikasikan dalam sikap hidup maupun tindakan yang tidak mementingkan diri, yang menganggap orang lain lebih utama dari kita. Perwujudan iman itu harus diarahkan untuk menjadi berkat bagi yang tertindas, membawa "sebungkus nasi" kepada mereka yang merindukan sesuap nasi, dan membantu yang terbuang dan terhina itu untuk menemukan citra dirinya yang benar di hadapan Allah yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus. Inilah wujud pelayanan yang utuh yang harus dikembangkan lebih lagi baik melalui sikap “tepo sliro” maupun tindakan nyata solidaritas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memahami Budaya “Tepo Sliro” dalam Perspektif Teologi Solidaritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Tepo Sliro” (tenggang rasa) berasal dari kata "tepo/tepang dan sliro/saliro" yang artinya mengenal dirinya sendiri dan juga mengenal diri orang lain. Ini adalah salah satu falsafah hidup budaya Jawa, yang berarti suatu sikap hidup yang memandang orang lain sebagai bagian hidup yang perlu dihargai, sehingga menjadikan dasar tindakan kita untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang lain, tetapi justru senantiasa berusaha untuk melihat kepentingan orang lain lebih utama dari kepentingan dirinya sendiri tanpa mengurangi harga diri kita pribadi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, tenggang rasa mengandung arti ikut menghargai perasaan orang lain. Jadi sikap ini sangat erat hubungannnya dengan relasi sosial kita dengan orang lain. Sikap ini mampu menjauhkan diri kita dari falsafah-falsafah modern yang merusak seperti individualistis, cuek, apatis dan tidak mau tahu orang lain. Sikap “tepo sliro” ini selanjutnya bisa menjadi sikap awal dari tindakan solidaritas yang lebih nyata di dalam bentuk perbuatan. Sikap ini merupakan nilai-nilai luhur yang perlu diangkat kembali, disosialisasikan dan diberdayakan di dalam menanggapi krisis keadilan sosial politik yang ada di Indonesia ini. Sikap ini perlu diterjemahkan di dalam realita kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang saat ini begitu individualis, hedonis, korup dan apatis.&lt;br /&gt;Usaha untuk memahami dan menghayati kembali budaya “tepo sliro” ini memang tidak mudah khususnya di dalam situasi krisis multidimensional seperti di Indonesia ini. Masing-masing pihak, institusi baik pemerintahan, swasta bahkan gereja seolah-olah justru berlomba-lomba untuk “mencuci tangan” bahkan melarikan diri dari tanggung jawab. Kita bisa melihat bahwa sejak lengsernya Suharto, hingga sekarang, reformasi dan segala bentuk atribut yang digembar-gemborkan ternyata masih belum kelihatan format, arah dan bahkan hasil nyata. Perjuangan reformasi yang telah dirintis seolah-olah belum didukung oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini. Masing-masing masih sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan kita bisa melihat jelas bahwa di dalam kepemimpinan puncak pemerintahan kitapun juga belum bisa bekerja dengan efisien dan kompak karena masih ada kenyataan saling menjegal, saling menuduh, saling memfitnah dan saling menjatuhkan. Presiden, wakil presiden, para menteri bahkan seluruh anggota legislatif masih sulit untuk mampu menjadi “a competence leader”. Bahkan terbukti masyarakat hingga kini masih mempertanyakan integritas maupun moralitas para elit dan politikus, karena memang kenyataannya kita semua belum bisa melihat adanya suatu perubahan yang nyata. Namun kita juga tidak bisa hanya mempersalahkan mereka, karena pada kenyataannya tanggung jawab berbangsa dan bernegara apalagi bermasyarakat itu bukan hanya urusan pemerintah namun juga merupakan tanggung jawab setiap warga negara, setiap institusi atau lembaga dalam bentuk apapun termasuk gereja. Pada kenyataannya “pekerjaan rumah yang harus diselesaikan” begitu banyak.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu kita membutuhkan suatu komitmen bersama untuk bangkit dari keterpurukan, untuk menciptakan keadilan sosial politik sesuai dengan yang kita inginkan bersama dan itu bisa dimulai dengan mengembangkan sikap “tepo sliro” dan membangun kepekaan solidaritas terhadap sesama.&lt;br /&gt;Indriani Bone dalam tulisannya tentang “Komunitas Keadilan, Persahabatan dan Solidaritas” memberikan suatu pandangan yang menarik tentang hubungan yang bisa ditarik antara sikap “tepo sliro” dengan solidaritas,&lt;br /&gt;“Solidaritas menghendaki kita untuk menghormati martabat semua orang dan menolak pemaksaan penguasaan atas orang lain. Untuk menjadi solider dengan orang lain tidak menuntut agar mereka semua menjadi sama dengan kita, tetapi kita bersama-sama bersuara bagi semua orang yang telah dibungkamkan, sehingga pengalaman kebersamaan kita bisa dikembangkan dan keadilan muncul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi solidaritas diawali oleh suatu sikap “tepo sliro” kita terhadap orang lain di sekitar kita khususnya mereka orang-orang yang seringkali mengalami ketidakadilan sosial politik. Frans Magnis Suseno juga mengemukakan pandangannya yang menarik tentang solidaritas yaitu,&lt;br /&gt;“Solidaritas memuat segugus sikap yang kalau direalisasikan mesti lama-kelamaan mengubah masyarakat yang egois dan berdasarkan struktur-struktur kekuasaan menjadi masyarakat solider, masyarakat persaudaraan. Solidaritas berarti: kesediaan untuk berada dekat dengan saudara yang membutuhkan, untuk membantunya sejauh kita dapat, tetapi sekaligus untuk menghormati martabat dan otonominya, jadi untuk tidak menjadikannya objek kita, juga bukan objek kebaikan kita. Solidaritas berarti: kita berada di dekat orang yang kesulitan dengan cinta, dengan perhatian, dengan hormat, dengan kesediaan untuk tidak meninggalkannya, untuk membantu mengubah nasibnya yang buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sikap “tepo sliro” bekerja bersama-sama dengan pemahaman tentang solidaritas yang tujuannya adalah sama yaitu memperjuangkan keadilan sosial politik, mengangkat derajat yang lemah, yang terhina, dan semuanya ini didasari oleh iman dan kasih baik dalam relasi dengan Tuhan maupun sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gereja sebagai sebuah Model Komunitas yang Penuh “Tepo Sliro” dan Solidaritas: Memberikan Harapan Baru bagi Terwujudnya Keadilan Sosial Politik di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja saat ini identik dengan bangunan yang megah, mewah, tempat parkir yang selalu dipenuhi berbagai mobil mewah di hari minggu. Acara-acara yang gegap gempita, keagamaan yang perayaan-perayaan berlebihan. Namun bagaimana kira-kira pandangan masyarakat di sekitar gereja tentang gereja dan orang kristen pada umumnya? Bagaimana relasi sosial kemasyarakatan gereja sejauh ini? Herlianto dalam Pelayanan Perkotaan, mengemukakan sebuah pendapat,&lt;br /&gt;“salah satu sikap sebagian umat Kristen perkotaan (urban Christian) adalah praktek-praktek kehidupan beragama dan beribadat yang cenderung materialistis, berkemewahan dan sering menjurus ke arah komersialisasi ibadah. Perilaku demikian memupuk sikap narsistik umat Kristen yang tidak sejalan dengan pelayanan seutuhnya yang Tuhan kehendaki kita lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja harus menjadi model sebuah komunitas yang “bertepo-sliro,” menghargai perasaan dan kepentingan orang lain. A.A. Yewangoe mengutarakan sikapnya terhadap bagaimana gereja harus bersikap di dalam krisis ini, “gereja harus memperlihatkan solidaritas yang penuh dengan bangsa yang menderita ini, lebih-lebih lagi mereka yang tertindas dan dilecehkan secara hukum, harkat dan martabat manusia harus diperjuangkan.” Dan untuk lebih terwujud dalam sikap dan tindakan Suseno kembali mengatakan pandangannya,&lt;br /&gt;“Kita harus mewujudkan sebuah gaya hidup yang sederhana (tetapi bukan miskin dan melarat), berdasarkan kerja keras, bertanggungjawab, dengan kesediaan untuk bertanggungjawab dan berkeprihatinan terhadap sesama yang miskin dan menderita, puas dengan seadanya, ikut dalam pembangunan masyarakat tanpa pamrih, bersedia untuk membatasi diri dan seperlunya berkorban demi kesejahteraan bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu sikap yang bisa kita tunjukkan, gereja harus menjadi model sebuah komunitas yang peduli, komunitas yang adil, komunitas yang penuh cinta kasih dan komunitas yang menjunjung tinggi kebenaran dan itu tidak hanya menjadi slogan tetapi mampu diejawantahkan dalam iman dan perbuatan yang nyata. Juan Hernandez Pico, seorang pejuang Solidaritas di Amerika Latin mengingatkan kita akan panggilan gereja, “…Yesus berusaha menjadikan komunitas baru yang diciptakanNya suatu alternatif yang memberi hidup, yang hadir di tengah-tengah sistem kekuasaan yang muncul satu demi satu dalam sejarah. Suatu alternatif yang memberi hidup, bukan suatu alternatif kekuasaan – itulah panggilan terhadap komunitas Yesus Kristus yang baru yakni Gereja, untuk hadir dalam sejarah.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari makhluk sosial dan sekaligus warga negara yang berada di Indonesia setiap orang percaya dan gereja harus menjadi suatu model komunitas yang menerapkan imannya secara utuh, yang membumi, yang kontekstual baik dengan budaya yang ada dimana kita hadir, dan mampu untuk bertindak positif, kritis, kreatif dan realistis. Salah satu nilai luhur yang perlu kita kembangkan dalam interaksi sosial kita dengan sesama adalah suatu sikap “tepo sliro” dan solidaritas yang kesemuanya terbungkus dalam iman dan cinta kasih baik kepada Pencipta maupun kepada insan ciptaanNya yang lain.&lt;br /&gt;Merdeka bagi Kristus!, dan mari terus menjadi pejuang-pejuang yang memerdekakan orang lain melalui sentuhan-sentuhan tangan kita yang menjadi perpanjangan tangan Sang Ilahi untuk menjangkau yang luka, yang papa yang terhilang. Semuanya dimulai dari diri kita, dari dalam keluar (inside out).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© by Christopher Andios, M.Div.&lt;br /&gt;[Alumni  STT Cipanas, melayani sebagai Tenaga Orientasi di GKMI Koinonia]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Herlianto, Pelayanan Perkotaan Tanggung Jawab Setiap Umat Kristen (Bandung:&lt;br /&gt;Yabina, 1999.&lt;br /&gt;Salim, Peter dan Salim, Yenny Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern&lt;br /&gt;English Press, 1995.&lt;br /&gt;Silaen, Victor. Gereja dan Reformasi. Jakarta:Yakoma-PGI, 1999.&lt;br /&gt;Sobrino, Jon dan Hernandez Pico, Juan. Teologi Solidaritas. Yogyakarta: Penerbit&lt;br /&gt;Kanisius, 1988.&lt;br /&gt;Suseno, Frans Magnis. Beriman dalam Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,&lt;br /&gt;1995.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37450618-116314636078478133?l=andiosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/116314636078478133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37450618&amp;postID=116314636078478133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314636078478133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314636078478133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/2006/11/budaya-tepo-sliro-ditinjau-dari.html' title='BUDAYA “TEPO SLIRO” DITINJAU DARI PERSPEKTIF TEOLOGI SOLIDARITAS: SEBUAH UPAYA UNTUK MENDUKUNG PERWUJUDAN KEADILAN SOSIAL POLITIK DI INDONESIA'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618.post-116314424209232842</id><published>2006-11-09T23:33:00.000-08:00</published><updated>2006-11-09T23:37:22.096-08:00</updated><title type='text'>Kasih yang Menembus Batas</title><content type='html'>“…Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2:3b-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita hidup di era boderless dimana dunia ini telah menjadi dunia yang seolah-olah tiada lagi memiliki batas-batas di dalam seluruh tatanan hidup umat manusia. Kita yang di pelosok desa dapat menikmati sajian MTV, Hollywood, maupun kancah berita internasional terkini seperti CNN  maupun Aljazeerah yang dapat kita nikmati hanya melalui sebuah “layar kaca.” Dunia kini dikatakan “global village” atau sebuah kampung internasional. Batas-batas antar negara seolah-olah tidak berlaku lagi. Seluruh tatanan dunia ini bercampur-aduk menjadi satu ala “gado-gado” mbok Inem yang membingungkan dan mencemaskan banyak orang. Tata nilai, moralitas, gaya hidup masa kini sudah tidak bisa lagi ditebak, made in darimana ya? Karena baik orang Amerika maupun orang Ameriki sama-sama bisa menikmati McDonald, pake jeans Levis dan kemeja Giorgio Armani walau tidak tahu asli atau palsu. Semuanya kelihatan sama percis. Kita juga sudah tidak bisa membedakan apakah si Shannon dan si Sariyem itu bule asli atau gak karena keduanya sama-sama berambut pirang. Wah, bingung tenan rek… kata orang Surabaya.&lt;br /&gt;Namun kalau ditelusuri lebih dekat, benarkah bahwa batas-batas di dalam tatanan hidup kita itu telah hilang sama sekali? Kalau benar maka alangkah menakutkan, karena kita tidak akan bisa lagi membedakan antara kebenaran dengan kejahatan, batasan budaya menjadi  amburadul, etika dan moralitas menjadi abu-abu dan batasan kehidupan duniawi dan surgawi diabaikan, dunia yang sementara yang terbatas dan kehidupan kekal yang tidak terbatas kehilangan maknanya. Bukankah jelas ini adalah realitas yang berbeda dan tetap ada batasannya? Inikah dambaan kita semua bahwa kita benar-benar menginginkan dunia tanpa batas? Dunia yang meniadakan adanya sekat-sekat, aturan-aturan, norma-norma yang memisahkan antara kebenaran dan kejahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau kita mau jujur, bukankah dunia kita hari ini justru terasa kian individualis, primordialis, dan egois? Dimana masing-masing pribadi kian hari kian hidup di dunianya sendiri-sendiri, masing-masing membangun tembok “kehidupan pribadi” nya dengan semakin megah dan kokoh, seolah-olah ingin agar orang lain tidak mengganggu privasinya.  Apakah ini dunia yang kita katakan tanpa batas? Mengapa justru manusia satu dengan yang lain kian membatasi dirinya? Mengapa masih ada tembok-tembok suku, ras, golongan, agama, status sosial, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan? Bukankah kalau kita mau jujur, sekat-sekat atau batas-batas dalam kehidupan kita hari ini kian membuat kasih di antara kita semakin pudar dan tidak terlihat lagi? Bukankah hari ini kehidupan kita kian terasa hambar karena masing-masing mengutamakan kepentingan diri lebih dari kepentingan orang lain? Lalu apa maknanya berbicara tentang kasih yang menembus batas? Apakah berarti kasih yang meniadakan batasan sama sekali, atau kasih yang melintasi batas-batas apapun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam perenungan ini, saya teringat akan sebuah gambaran yang indah ketika suatu saat di bulan Desember 2000, saya mendampingi teman saya James Wittenberg (anggota YES team) untuk mengajar para tukang becak belajar bahasa Inggris. Sore itu, saya melihat suatu gambaran ilahi, makna inkarnasi Yesus dalam Filipi 2:5-8 terngiang jelas dalam benak saya. James seorang muda yang cakap dan berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Kanada suatu negara yang mapan dan nyaman, mau meninggalkan semuanya itu dan datang ke Indonesia selama 6 bulan untuk melayani Tuhan dan sesamanya. Ya, demi satu misi ilahi, ia rela untuk menembus batas-batas budaya, bahasa dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk menjadi sama dengan saudara-saudaranya yang berbeda warna kulit dan kewarganegaraan. Ia tetap James wong londo, namun mau menjadi sama seperti tukang-tukang becak Terminal Tirtonadi Solo, duduk bersila dan membagikan suatu makna hidup yang lain bagi mereka. Dan sore itu saya melihat dia berusaha dengan sabar mengajar bahasa Inggris kepada mereka sambil sesekali menyelipkan kata-kata Indonesianya yang terpatah-patah.  Wow, it's amazing!  Berapa banyak di antara kita yang kira-kira mau melakukan hal ini di Indonesia ini? “Mengajar tukang becak bicara bahasa Inggris, gratis lagi? Mana ada yang mau? Mana mau saya kan sarjana S1 lulusan Universitas ternama, ngapain ngelakuin hal kayak gitu? Ngapain bergaul dengan orang-orang yang suku, status dan agamanya beda ama kita? Ngapain sih mesti susah-susah, lagian mereka kan hanya tukang becak?” Begitu mungkin apa yang ada di benak kita (barangkali).&lt;br /&gt;Iya ya kalau begitu ngapain sih Yesus mesti susah-susah datang ke dalam dunia yang rusak moral, yang sangat egois ini. Ngapain ya 2000 tahun yang lalu Dia mau lahir ke dalam dunia, hidup dan bergaul dengan orang-orang berdosa seperti kita-kita ini? Ngapain dan ngapain? Ngapain sih kita harus merayakan Natal setiap tahun dengan gegap gempita, harus ngeluarin duit kas gereja jut-jutan? Apakah karena benar kita sedang menyambut kelahiran Yesus Sang Raja itu di dalam lubuk hati kita yang terdalam? Ataukah kita sedang terlena dengan tradisi keharusan merayakan Natal karena dari dulu memang sudah begitu? Dari sekolah minggu udah diajarin begitu kok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara sekalian, sudahkah kita memahami akan makna Natal sesungguhnya yaitu peristiwa inkarnasi Yesus Kristus yang datang ke dunia bukan dengan kemegahanNya sebagai seorang Raja, bukan dengan kebesaranNya sebagai seorang Penguasa Dunia, tetapi dengan rela mengosongkan diriNya dan semua atribut KerajaanNya, mengambil rupa sebagai manusia seperti saudara dan saya. Ia meninggalkan tahta Surgawi dan datang ke dalam dunia yang masih becek kalau terkena hujan, dunia yang sama dimana saudara dan saya hari ini ada. Bukankah ini semua karena dosa-dosa kita? Bukankah karena Ia tahu bahwa tanpa kedatanganNya ke dalam dunia ini, manusia tidak memiliki pengharapan? Bukankah ini karena Ia harus memilih suatu pilihan sulit, untuk mengasihi BapaNya yang berarti misi utama kedatanganNya di dunia adalah untuk menuju Salib, untuk mati bagi penebusan dosa saudara dan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, bagaimana seharusnya kita boleh merayakan Natal yang sesungguhnya? Bukankah dengan meneladani inkarnasiNya, dimana Ia mau mengosongkan diriNya menjadi sama dengan kita, melayani manusia yang berdosa dengan senantiasa memberikan diriNya untuk kepentingan orang lain, mati bagi kita semua tanpa memperdulikan status, suku, latar belakang keluarga kita? Bukankah kasihNya terbuka untuk umum (bukan “untuk kalangan sendiri” seperti tertera di pamflet-pamflet acara-acara rohani). Bukankah kasihNya menembus batas-batas kesukuan, status sosial, kepentingan atau kenyamanan diri? Mengapa hari ini kasih kita masih terbatas hanya di dalam tembok-tembok gereja? Bahkan hanya untuk kalangan sendiri, kelompok sendiri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih itu universal, tidak bisa dibatasi&lt;br /&gt;Kasih itu aktif dan berbuat&lt;br /&gt;Kasih itu melihat kebutuhan orang lain lebih utama dari kebutuhan diri sendiri&lt;br /&gt;Kasih adalah peristiwa agung dimana Allah mengutus Anak TunggalNya untuk datang ke dalam dunia yang berdosa, untuk mati sebagai korban penebusan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal adalah Allah yang mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia.&lt;br /&gt;Natal adalah Allah yang Tidak Terbatas menerobos masuk ke dalam dunia yang terbatas, dunia yang diciptakanNya sendiri&lt;br /&gt;Natal adalah ungkapan kepedulian Allah akan keberdosaan manusia yang membuat diriNya harus menembus batas antara hakekat diriNya yang adalah Kasih dan juga Keadilan&lt;br /&gt;Natal adalah perjalanan Sang Ilahi yang menembus batas surgawi dan duniawi untuk mewujudkan karya Salib yaitu penebusan dosa&lt;br /&gt;Natal adalah  perjalanan menembus batas-batas kenyamanan diri. Raja di atas segala raja mau lahir di kandang domba yang sederhana.&lt;br /&gt;Maukah kita keluar dari kenyamanan diri kita hari ini, dan pergi menyapa sesama kita yang sedang tersisih dan terbuang, dan memberitakan berita Kasih Surgawi Kelahiran Kristus Sang Juruselamat itu?&lt;br /&gt;Inilah kasih yang menembus batas, kasih yang berbuat, kasih yang melintasi kepentingan atau kenyamanan diri. Selamat merayakan Natal dengan perspektif baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 25 November 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christopher Andios&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37450618-116314424209232842?l=andiosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/116314424209232842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37450618&amp;postID=116314424209232842' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314424209232842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314424209232842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/2006/11/kasih-yang-menembus-batas.html' title='Kasih yang Menembus Batas'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618.post-116314392798875000</id><published>2006-11-09T23:29:00.000-08:00</published><updated>2006-11-09T23:32:07.993-08:00</updated><title type='text'>Hidup Bukan Sekedar Seberapa Lama, Tapi Seberapa Makna</title><content type='html'>Suatu siang di bulan April 2004 di bandara Juanda, aku menjemput seorang Pendeta Senior yang dari raut wajahnya terlihat garis-garis kehidupan yang sarat dengan makna, betapa hidupnya benar-benar “all totally for God”. Ia sudah tidak muda lagi memang, namun semangatnya begitu luar biasa. Siang itu, aku sangat antusias untuk bertemu dengannya karena aku rindu untuk meluangkan waktu selama seminggu lebih bersamanya. Rencananya ia akan berbicara dua sesi dalam kebaktian Jumat Agung dan Paskah gereja kami yang notabene merupakan hasil perintisannya. Aku hanyalah seorang anak muda yang sedang belajar meneruskan tongkat estafet pelayanan yang telah dimulainya. Pendeta Setiawan namanya.&lt;br /&gt;Segera sesudah kami masuk ke dalam mobil ia langsung bertanya, “Ian hari ini ada rencana apa ya?” Akupun menjawab, “Saya siap menemani kemanapun Bapak mau pergi. Selama Bapak disini saya siap mengantarkan.” “OK, kalau begitu kita menuju ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, ya!” “OK,” jawabku pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita iapun menceritakan kisahnya ketika berada di pesawat yang membawanya dari Jakarta ke Surabaya. Di sebelahnya, duduk seorang wanita yang semenjak dari tempat penantian keberangkatan, wajahnya terlihat sayu, seolah-olah diliputi suatu pergolakan batin yang sangat mendalam. Pendeta Setiawan sebenarnya sudah merasakan suatu dorongan batin untuk mendekatinya waktu itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Dalam pandangannya, ia melihat ada sebuah tindakan kasih yang perlu disampaikan kepadanya. Entah bagaimana, pada akhirnya ia duduk bersebelahan tepat dengan wanita yang dilihatnya tatkala mereka mulai masuk ke dalam pesawat. Dan dengan hati yang rindu untuk membagikan kasihNya, ia mencoba memulai percakapan dan ternyata sungguh tidak disangka bahwa wanita ini memang sedang bergumul karena adik laki-lakinya sedang berada di ICU: menderita kanker paru-paru stadium empat. Wow, betapa suatu pergulatan batin yang tidak mudah. Wanita inipun seolah-olah segera menemukan tempat untuk berkeluh-kesah tatkala Pendeta Setiawan memperkenalkan dirinya sebagai seorang Pendeta. Pendeta Setiawan dengan hati welas asih-nya pun berkata, “Saya akan berusaha menjenguk dan mendoakannya.” “Percayalah Tuhan tahu yang terbaik,” katanya lembut namun pasti seolah-olah bagaikan setetes embun yang lembut bagi jiwa wanita yang sedang gundah gulana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami berdua segera meluncur ke rumah sakit tersebut, tenang namun pasti kami segera memasuki ruangan tempat dimana tergeletak seorang laki-laki berusia 37 tahun, yang dengan nafas tersengal-sengal mencoba untuk terus bertahan hidup. Kulihat isterinya berdiri di sisinya, memegang tangan kekasih hidupnya dengan erat. Ia terlihat berusaha menyeka tangisnya. Lelaki yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 5 tahun ini sebut saja A Cong, sudah beberapa bulan mengalami penderitaan yang luar biasa. Keluarganya telah berusaha membawanya ke rumah sakit ternama, dari Jakarta hingga Singapura. Merekapun juga telah berdoa, berharap agar Tuhan menyatakan mujizatNya. Mereka telah lelah berusaha, mereka telah putus asa berharap. Mereka sangat ingin melihat orang yang mereka kasihi disembuhkan dari semua perderitaan fisik ini. Harapan mereka, biar hidup tetap berlanjut, biar sukacita terus diraih. Waktu itu, Pendeta Setiawan dengan segera mencoba untuk berkomunikasi dengan lelaki itu, ia menanyakan, “percaya Yesus ya… jangan takut, Tuhan Yesus mengasihimu…” Dengan pelan, kulihat lelaki itu berusaha menganggukkan kepalanya perlahan…. Kemudian, tanpa berlama-lama Pendeta Setiawan mengajak kami semua untuk berdoa, bertanya kepada Tuhan apa maksudNya dan menyerahkan semua kepadaNya, manusia bisa berharap, tapi Tuhan yang menentukan. Ia berdoa agar semua keluarga, pasrah, berserah penuh pada Tuhan. Akhirnya, kamipun pamit pulang dan sebelum pulang kami bertemu dengan kedua orang tua A Cong. Dari kesaksian mereka, terdengar bahwa mereka melihat A Cong telah mengajarkan satu hal kepada mereka, yaitu makna pengenalan secara pribadi dengan Yesus Kristus. A Cong ternyata adalah seorang murid Kristus yang taat. Selama masa-masa kritisnya berjuang dengan kanker, A Cong tidak pernah terlihat putus asa, berkeluh-kesah apalagi menyalahkan Tuhan. Ia begitu tenang, dan berserah sepenuhnya kepada Sang Kekasih jiwanya. Ia tahu bahwa kehidupannya ada dalam genggaman tanganNya. Kehidupan adalah tentang bagaimana menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk memuliakanNya. Kehidupan adalah tentang bagaimana membuat makna ilahi, menyatakan kasihNya kepada sesama, kepada orang-orang terdekat kita bahkan musuh kita sekalipun. A Cong memahami bahwa Kristus haruslah menjadi yang terutama dalam hidupnya. Alhasil melalui kesaksian hidup yang nyata, berjuang melawan kanker stadium empat dengan kepasrahan diri, A Cong telah menuntun secara perlahan kedua orang tuanya untuk lebih mengenal Yesus. Dari kesaksian kedua orang tuanya, kami melihat suatu perkara ajaib yang sedang Tuhan kerjakan. Rencana keselamatan yang akan menjamah keluarga A Cong yang masih belum mengenal Sang Pencipta Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kami berdua pulang beristirahat dan kami tidak terlalu banyak mengetahui berita selanjutnya. Keesokan harinya, Pendeta Setiawan kembali mengajakku untuk mengunjungi A Cong dan keluarganya. Tetapi kami agak sedikit bingung karena kami tidak menjumpai anggota keluarganya seorangpun. Akhirnya seorang suster memberi tahu bahwa semalam A Cong telah dipanggil Tuhan, Ia telah berpulang ke rumah Bapanya yang sangat mengasihinya. Walau agak sedikit terkejut, kamipun dalam hati memuji Tuhan atas kehendakNya yang sempurna. Ia tahu yang terbaik bagi hidup A Cong dan keluarganya.&lt;br /&gt;Kamipun segera meluncur menuju ke tempat peristirahatan sementara di Adi Jasa. Aku secara pribadi agak merasa takut, kuingat dengan jelas bahwa kemarin sore, kami berdua mendoakan seorang lelaki yang sangat kritis tersebut, dan kulihat seluruh keluarganya terlihat ingin melihatnya sembuh oleh kuasa Tuhan. Mereka begitu menyambut kami dan berpikir bahwa kami adalah utusan Allah yang mungkin bisa menyembuhkan. Dan kini, apa yang kulihat adalah seorang isteri yang tidak kuasa menahan kekecewaan yang sangat, “mengapa ia harus pergi?” Kulihat di sana sini wajah-wajah yang diselimuti duka yang mendalam, “yah A Cong telah pergi mendahului kami” kata sang kakak yang dijumpai Pendeta Setiawan di pesawat waktu itu yang berinisiatif menghampiri kami. “Tadi malam jam 9, A Cong menghembuskan nafasnya yang terakhir,” lanjutnya lirih. Di tengah-tengah kebisuan dan kegalauan batin yang amat menyesakkan, kudengar Pendeta Setiawan mencoba untuk bersimpati, iapun tidak banyak berkata-kata, ia hanya mencoba menepuk pundak sang kakak yang sedikit terisak, “percayalah ini adalah yang terbaik dari Tuhan.” Kemudian tidak berapa lama, aku melihat satu perkara yang ajaib, aku melihat bahwa kedua orang tua A Cong yang dulunya belum mengenal Kristus, justru kulihat begitu tabah. Kamipun menghampiri mereka dan mengucapkan simpati kami, dan sang ibu kemudian berkata, “sekalipun tidak mudah bahwa A Cong, anak kami, dipanggil pulang, kami harus jujur mengakui bahwa melalui ini semua kami justru boleh mengenal siapakah Tuhan yang disembah A Cong selama ini. Kami melihat Tuhan! Kami diperlihatkan suatu keagungan karyaNya sekalipun caraNya begitu sulit kami mengerti. Kami tahu Tuhan memanggil A Cong pulang, supaya kami berdua boleh mengenal Yesus secara pribadi.” Dalam batinku akupun segera memuji kebesaran Tuhan, “o Lord, it’s all about You.” Kami mengamini apa yang diucapkan sang ibu, seorang ibu dari seorang anak lelaki yang baru saja meninggalkannya, di usianya yang masih muda 37 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu di Adi Jasa aku belajar sesuatu, bahwa meskipun meninggal di usia muda, A Cong telah berhasil memaknai hidupnya, dengan meninggalkan bekal yang sangat penting bagi kedua orang tuanya yaitu rahasia pengenalan akan Tuhan Yesus yang ajaib, suatu harta yang tidak ternilai.&lt;br /&gt;Ya, A Cong telah menyelesaikan perjalanan hidupnya dengan baik. Kulihat Pendeta Setiawan tersenyum kepadaku, ia tahu isi hatiku. Ia seolah-olah berkata, “mari kita lanjutkan perjalanan hidup kita Ian, dengan memberi makna atas hidup ini lebih lagi.” Dalam hati aku segera berkata, “ya Tuhan, aku mau hidupku juga memiliki makna, tidak hanya berpikir berapa lama aku masih bisa hidup, tapi bagaimana aku memaknai hidupku.” Hidup bukan sekedar seberapa lama, tapi seberapa makna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 5 September 2005&lt;br /&gt;                           &lt;br /&gt;Christopher Andios&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37450618-116314392798875000?l=andiosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/116314392798875000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37450618&amp;postID=116314392798875000' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314392798875000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314392798875000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/2006/11/hidup-bukan-sekedar-seberapa-lama-tapi.html' title='Hidup Bukan Sekedar Seberapa Lama, Tapi Seberapa Makna'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618.post-116314347216315685</id><published>2006-11-09T23:20:00.000-08:00</published><updated>2006-11-09T23:24:32.176-08:00</updated><title type='text'>Be An Encourager in the World of Sorrow!</title><content type='html'>Andios’ NewsLetter#2                   &lt;br /&gt;Surabaya, 12 Desember 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be An Encourager in the World of Sorrow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear all of my brothers and sisters in Jesus Christ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang rasanya boleh mensharingkan kembali suka duka melayani Tuhan di GKMI Koinonia ini. Setelah waktu terus berlalu dan minggu demi minggu berjalan, tidak terasa kalau saya telah menginjak bulan yang keempat di Surabaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang ada banyak pengalaman baru yang boleh dipelajari, namun ada juga pergumulan menghadapi realita berjemaat, dimana saya mulai melihat betapa realita permasalahan hidup adalah sangat kompleks. Justru melalui keberadaan di tengah-tengah sebuah jemaat ini, saya mulai bisa merasakan bahwa memang menjadi hamba Tuhan adalah belajar menjadi hamba manusia. Saya teringat sharing yang pernah disampaikan oleh Pdt. Charles Christano tentang hal ini. Ada kalanya saya tidak tahu harus berbuat apa saat mendengar permasalahan yang dialami seorang jemaat. Ada kalanya saya merasa kok seperti ini ya? Apa yang harus saya lakukan, saya harus bagaimana? Bahkan ada kalanya tidak tahu harus berbicara apa? Bagaimana saya harus bersikap? Ada kalanya jujur saya mulai merasa agak sedikit “terganggu” dengan permasalahan-permasalahan yang seolah-olah dilontarkan kepada saya dan menuntut sayalah yang harus berperan aktif untuk menyelesaikannya. Dan dalam beberapa saat, saya mencoba untuk sedikit menghindar dari mereka, dan sesaat saya merasa lega.&lt;br /&gt;Namun kemudian setelah saya merenungkan kembali, “Lho bukankah saya ini memang dipanggil untuk ini…” Saya ini kan memang hamba Tuhan yang harus melayani tiap-tiap pribadi yang memang memiliki pergumulannya tersendiri. Justru inilah yang namanya pelayanan… memberi diri untuk melayani orang lain dan mengesampingkan segala kepentingan, kehendak diri dan keegoisan pribadi. Bukankah adalah Tuhan yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang hadir di dalam hidup kita?&lt;br /&gt;Di saat-saat kembali dalam kesadaran inilah, saya mulai berlutut kembali dan memohon kasih karuniaNya agar memampukan saya untuk menghadapi semua realita ini. Bahwa menjadi hamba Tuhan adalah menjadi hamba manusia. Harus mau “meladeni” atau melayani mereka satu persatu dengan segala karakteristik dan keunikan serta kekompleksitasan masalah yang sedang dialami. Not by my strenght but by His power.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara pemahaman-pemahaman seperti inilah yang terus terang mendominasi hari-hari yang saya hadapi akhir-akhir ini.  Seperti mencoba menguatkan seorang jemaat petobat baru yang mengalami kerugian puluhan juta karena kesalahan dalam pekerjaannya. Atau jemaat yang menghadapi vonis harus membayar hutang ratusan juta, jikalau tidak akan dieksekusi pidana. “Lord, what shall I say, how can I do something for them?”&lt;br /&gt;Maka di dalam keterbatasan diri, dan ketidakmampuan untuk bersikap, saya teringat akan satu teladan Sang Gembala yang Baik yaitu senantiasa “berempati” kepada siapapun yang hadir di dalam hidupNya. Ya, di dalam masa pelayananNya Yesus senantiasa berempati kepada orang-orang yang tidak berpengharapan, mereka yang buta, sakit kusta, mereka yang dibelit berbagai kesulitan hidup. Yesus mau berempati kepada mereka. Memang tidak semuanya terlayani, ada kalaNya Ia juga menyingkir ke tempat lain dimana Iapun juga ingin memberitakan Injil, yang untuknya Ia telah datang. &lt;br /&gt;Dan memang di saat tiada sepatah kata yang bisa terucap saat mendengar pergumulan orang-orang di sekeliling kita, empati mampu menembus batas-batas kesuaman, dan kelesuan. Empati mampu menggugah hati rekan-rekan di sekeliling kita  yang sedang remuk redam, putus harapan. Empati mampu menentramkan hati yang sedang galau gelisah tak menentu. Empati adalah sikap hati yang mau duduk bersama, mencoba mendengar keluh kesah dengan  hati yang tulus, tanpa ada sedikitpun usaha-usaha untuk secara klise berkata, “aku bisa memahami perasaanmu…” Empati adalah dapat jujur berkata, “hey brother saya terus terang juga tidak tahu harus berbuat apa, tapi saya mau kamu tahu bahwa saya ada disini untukmu…, saya mendukung kamu…, saya berdoa untukmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara selain empati, ada satu pelayanan yang mulia yang juga mampu menjadi “buah apel emas di pinggan perak” yaitu kata-kata encouragement atau dorongan. Ketika kita menjumpai ada rekan-rekan di sekeliling kita yang sedang putus asa, patah semangat dengan segala macam pergumulan dan permasalahan, adalah satu kesempatan mulia untuk ikut memberikan dorongan melalui perkataan dan tindakan kita. Mengucapkan perkataan-perkataan dorongan adalah seperti memberikan aliran-aliran kehidupan kepada  yang letih lesu (Amsal 10:11), menggembalakan banyak orang (Amsal 10:21). “Sehingga … alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya (Amsal 15:23).&lt;br /&gt;Dalam hal ini saya teringat akan surat-surat penggembalaan rasul Paulus yang sarat dengan kata-kata dorongan kepada jemaat-jemaat yang sedang menghadapi berbagai macam problematika  kehidupan pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji Tuhan, sebagai orang percaya yang hidup di abad 21, dimana komplektisitas masalah dan pergumulan hidup semakin terasa berat dan menghimpit, kita masih tetap memiliki dan mengenal Alkitab sebagai Perkataan-Perkataan Ilahi atau Firman Allah yang senantiasa mampu memberi kita dorongan-dorongan, kekuatan yang baru setiap hari. “FirmanNya memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (II Tim 3:16). FirmanNya adalah Perkataan Ilahi yang senantiasa mampu mengisi dan memuaskan kehausan jiwa kita. FirmanNya adalah kekuatan kita, di saat-saat tidak ada lagi kemampuan untuk bertahan. FirmanNya adalah pengharapan kita di saat-saat kita tidak bisa lagi melihat adanya harapan. FirmanNya adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu saudara-saudara, biarlah melalui sharing singkat ini, saya juga ingin mendorong rekan-rekan sekalian untuk bersama-sama belajar untuk menjadi seseorang yang mampu berempati dan memberikan kata-kata dorongan kepada orang-orang yang Tuhan pertemukan dengan kita setiap hari. Saya membayangkan betapa pelayanan person to person adalah pelayanan yang sangat mulia, dimana Tuhan Yesus juga seringkali menyatakan kemuliaanNya dengan menjamah, memulihkan satu demi satu jiwa yang hadir di dalam hidupNya. Ia tidak menghindar dan menolak kenyataan itu, Ia justru datang dan menghampiri orang-orang yang sedang terhimpit berbagai permasalahan hidup dan berkata, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu…”&lt;br /&gt;Be an encourager in the world of sorrow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special thanks to Agus who gave me inspiration to write this email&lt;br /&gt;Salam dalam kasihNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christopher Andios&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andioville@hotmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37450618-116314347216315685?l=andiosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/116314347216315685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37450618&amp;postID=116314347216315685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314347216315685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314347216315685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/2006/11/be-encourager-in-world-of-sorrow.html' title='Be An Encourager in the World of Sorrow!'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37450618.post-116314247482211399</id><published>2006-11-09T23:05:00.000-08:00</published><updated>2006-11-09T23:07:54.833-08:00</updated><title type='text'>Andios’ NewsLetter#1</title><content type='html'>Andios’ NewsLetter#1                                                                                Surabaya, 17 Sept 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syalom dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sukacita tersendiri bagi saya untuk menuliskan surat sharing ini sebagai wujud ucapan syukur saya untuk membagikan sukacita di dalam melayani Dia Sang Guru Agung yang senantiasa membimbing hambaNya.&lt;br /&gt;Ada pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang, sehingga melalui NewsLetter ini, saya ingin memperkenalkan dan menceritakan pelayanan saya dengan harapan agar setelah mengenal maka saudara-saudari sekalian akan dengan senang hati mengingat saya di dalam doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu frase yang sampai saat ini menjadi suatu perenungan teologis yang saya rasakan dan saya pergumulkan adalah “It’s all about Him.” Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah suatu karya tentang Dia, tentang Allah yang maha berdaulat di dalam mengatur tiap detik, dan tiap segi kehidupan kita. Semuanya tentang Yesus yang telah menebus kita dari keberdosaan kita sehingga setiap orang tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita (II Kor 5:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalani kehidupan sebagai orang yang telah ditebus sehingga keberadaan hidup kita ditundukkan di bawah kehendak dan otoritasNya adalah tidak mudah, ini semua membutuhkan ketaatan dan kerelaan. Ketaatan untuk terus menyediakan diri untuk dibimbing meskipun kita belum tahu ke mana Tuhan akan membawa kita pergi. Serta kerelaan untuk dibentuk dan dipoles sedemikian rupa untuk menjadi bejana yang layak dipakai dengan integritas dan kemurnian yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang coba saya renungkan di dalam perjalanan saya mengikuti Dia Sang Guru Agung, Sang Amanator Agung. Hari ini tepatnya adalah hari ke-20 dimana Tuhan telah membawa saya ke tempat yang tidak pernah saya duga sebelumnya, tempat dimana Ia ingin membentuk saya lebih lagi dan menjadi perpanjangan tangan demi menjalankan karya AgungNya di tengah-tengah dunia ini. Di kota Buaya Surabaya ini, saya merasakan bahwa Tuhan ingin membentuk saya lebih lagi menjadi murid yang bukan sekedar belajar, pandai berkata-kata tetapi yang juga cakap di dalam melayani orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat jelas dalam kurun waktu 20 hari ini, saya dibawa kepada banyak hal yang menjadi perenungan tentang Dia yang mengatur segala sesuatu dan Dia yang berdaulat memimpin segala sesuatu. Hari pertama ketika saya menginjak Surabaya, saya langsung diajak oleh Pdt. Andreas Setiawan dan juga mas Binuko untuk layat, mengunjungi keluarga seorang Pendeta kerabat Pdt. Andreas di Pulau Madura. Di sana seolah-olah saya diperlihatkan kepada seorang prajurit Laskar Kristus yang telah dipanggil pulang karena telah selesai melaksanakan tugasNya dengan baik. Seolah-olah ini menjadi gambaran jauh ke depan tentang harga sebuah pelayanan: yaitu melayani seumur hidup sampai mati. Terus terang saya bersyukur diperhadapkan dengan realitas ini yang menyadarkan betapa berharganya waktu yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melaksanakan Tugas IlahiNya yaitu melaksanakan Amanat Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah itu, di tengah-tengah keceriaan dan sukacita berkenalan dengan teman-teman baru, jemaat dan rekan-rekan yang terkasih, tepatnya seminggu setelah saya berada di Surabaya ini, saya mendengar kabar bahwa mama saya terkena stroke dan harus dibawa ke rumah sakit. Sempat terpikir dalam benak saya, “mengapa baru seminggu di tempat pelayanan yang baru, kok dapat kabar seperti ini?” Namun segera muncul di dalam batin saya suatu keyakinan bahwa “Aku akan menyertai kamu senantiasa.”  Suatu keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan ciptaanNya bertanya-tanya. Singkat cerita di dalam kepasrahan dan penyerahan total terhadap keyakinan akan kedaulatan Tuhan saya menyerahkan situasi ini kepada Tuhan dan Ia memberi saya kedamaian dan ketenangan. Sayapun bersyukur kalau pada akhirnya boleh menengok mama di Semarang walau hanya sekejap. Hal yang terlebih indah dari semuanya adalah saya merasa bahwa melalui kejadian ini papa saya yang notabene dulu masih sangat keras dan tidak terlalu suka dengan hal-hal rohani, mulai tertarik untuk memikirkan tentang realitas adanya Tuhan. Saya bersyukur bahwa Allah sendiri yang sedang bekerja di dalam hatinya untuk membawa dia lebih dekat kepadanya. Puji Tuhan, dan saat ini mama saya sudah semakin maju di dalam perkembangan pemulihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu sekitar dua minggu lebih ini, salah satu hal yang saya alami adalah bertemu dan berkenalan dengan banyak saudara-saudara seiman maupun yang belum seiman. Berkunjung ke sana kemari dan mencoba menjalin relasi ataupun jaringan pelayanan. Selain itu salah satu hal yang saya lakukan adalah mengunjungi family dan mencoba menjadi bagian dari pergumulan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kali ketika saya sedang berkunjung di kost seorang pengurus, saya mengenal Hero seorang mahasiswa yang sedang dalam keadaan bingung dengan segala macam pertanyaan-pertanyaan tentang iman kristen. Dia begitu antusias sekali dan seolah-olah begitu rindu untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Namun kerinduan itu bercampur aduk dengan kebingungan dan kebimbangan dia. Karena memang dia sendiri pernah  berkeliling kesana-kemari mempelajari berbagai aliran Budha, mencoba untuk mencari kebenaran. Singkat cerita saya bercakap-cakap dengannya dan mengundangnya untuk datang ke gereja. Akhirnya iapun hadir dalam pertemuan kelas Pendalaman Alkitab kami dan sampai saat ini saya terus menjalin hubungan dengannya agar dia boleh semakin mantap di dalam menemukan kebenaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang terus terang saya syukuri dalam minggu-minggu awal di Surabaya ini diantaranya adalah boleh mengunjungi GKMI Songgoriti, berkeliling di seputar Batu dan mengunjungi beberapa yayasan dan lembaga misi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Above all, Eben Haezer!, inilah kata yang bisa mengungkapkan ucapan syukur saya atas pimpinanNya yang telah dinyatakan kepada saya walaupun adakalanya gentar menghadapi segala tantangan pelayanan disini, namun semuanya itu tidak pernah akan bisa dapat dibandingkan dengan anugerahNya yang sempurna di dalam Yesus Kristus Tuhan kita. It’s all about Him, It’s all about Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon Dukungan Doa untuk:&lt;br /&gt;Kerjasama dengan pengurus dan jemaat di dalam menjalankan Misi AgungNya di tengah-tengah dunia ini khususnya di Surabaya.&lt;br /&gt;Proses adaptasi dengan situasi dan kondisi di Surabaya.&lt;br /&gt;Hubungan dan jaringan kerjasama seluas-luasnya dengan berbagai pihak untuk mewujudkan rencanaNya.&lt;br /&gt;Misi GKMI Koinonia untuk menjadi Discipleship and Mission Center bagi anak-anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dalam kasihNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christopher Andios&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37450618-116314247482211399?l=andiosreflection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andiosreflection.blogspot.com/feeds/116314247482211399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37450618&amp;postID=116314247482211399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314247482211399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37450618/posts/default/116314247482211399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andiosreflection.blogspot.com/2006/11/andios-newsletter1.html' title='Andios’ NewsLetter#1'/><author><name>Christopher Andios</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15092692419464068635</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
