Kasih yang Menembus Batas
“…Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2:3b-8
Hari ini kita hidup di era boderless dimana dunia ini telah menjadi dunia yang seolah-olah tiada lagi memiliki batas-batas di dalam seluruh tatanan hidup umat manusia. Kita yang di pelosok desa dapat menikmati sajian MTV, Hollywood, maupun kancah berita internasional terkini seperti CNN maupun Aljazeerah yang dapat kita nikmati hanya melalui sebuah “layar kaca.” Dunia kini dikatakan “global village” atau sebuah kampung internasional. Batas-batas antar negara seolah-olah tidak berlaku lagi. Seluruh tatanan dunia ini bercampur-aduk menjadi satu ala “gado-gado” mbok Inem yang membingungkan dan mencemaskan banyak orang. Tata nilai, moralitas, gaya hidup masa kini sudah tidak bisa lagi ditebak, made in darimana ya? Karena baik orang Amerika maupun orang Ameriki sama-sama bisa menikmati McDonald, pake jeans Levis dan kemeja Giorgio Armani walau tidak tahu asli atau palsu. Semuanya kelihatan sama percis. Kita juga sudah tidak bisa membedakan apakah si Shannon dan si Sariyem itu bule asli atau gak karena keduanya sama-sama berambut pirang. Wah, bingung tenan rek… kata orang Surabaya.
Namun kalau ditelusuri lebih dekat, benarkah bahwa batas-batas di dalam tatanan hidup kita itu telah hilang sama sekali? Kalau benar maka alangkah menakutkan, karena kita tidak akan bisa lagi membedakan antara kebenaran dengan kejahatan, batasan budaya menjadi amburadul, etika dan moralitas menjadi abu-abu dan batasan kehidupan duniawi dan surgawi diabaikan, dunia yang sementara yang terbatas dan kehidupan kekal yang tidak terbatas kehilangan maknanya. Bukankah jelas ini adalah realitas yang berbeda dan tetap ada batasannya? Inikah dambaan kita semua bahwa kita benar-benar menginginkan dunia tanpa batas? Dunia yang meniadakan adanya sekat-sekat, aturan-aturan, norma-norma yang memisahkan antara kebenaran dan kejahatan?
Dan kalau kita mau jujur, bukankah dunia kita hari ini justru terasa kian individualis, primordialis, dan egois? Dimana masing-masing pribadi kian hari kian hidup di dunianya sendiri-sendiri, masing-masing membangun tembok “kehidupan pribadi” nya dengan semakin megah dan kokoh, seolah-olah ingin agar orang lain tidak mengganggu privasinya. Apakah ini dunia yang kita katakan tanpa batas? Mengapa justru manusia satu dengan yang lain kian membatasi dirinya? Mengapa masih ada tembok-tembok suku, ras, golongan, agama, status sosial, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan? Bukankah kalau kita mau jujur, sekat-sekat atau batas-batas dalam kehidupan kita hari ini kian membuat kasih di antara kita semakin pudar dan tidak terlihat lagi? Bukankah hari ini kehidupan kita kian terasa hambar karena masing-masing mengutamakan kepentingan diri lebih dari kepentingan orang lain? Lalu apa maknanya berbicara tentang kasih yang menembus batas? Apakah berarti kasih yang meniadakan batasan sama sekali, atau kasih yang melintasi batas-batas apapun?
Di dalam perenungan ini, saya teringat akan sebuah gambaran yang indah ketika suatu saat di bulan Desember 2000, saya mendampingi teman saya James Wittenberg (anggota YES team) untuk mengajar para tukang becak belajar bahasa Inggris. Sore itu, saya melihat suatu gambaran ilahi, makna inkarnasi Yesus dalam Filipi 2:5-8 terngiang jelas dalam benak saya. James seorang muda yang cakap dan berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Kanada suatu negara yang mapan dan nyaman, mau meninggalkan semuanya itu dan datang ke Indonesia selama 6 bulan untuk melayani Tuhan dan sesamanya. Ya, demi satu misi ilahi, ia rela untuk menembus batas-batas budaya, bahasa dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk menjadi sama dengan saudara-saudaranya yang berbeda warna kulit dan kewarganegaraan. Ia tetap James wong londo, namun mau menjadi sama seperti tukang-tukang becak Terminal Tirtonadi Solo, duduk bersila dan membagikan suatu makna hidup yang lain bagi mereka. Dan sore itu saya melihat dia berusaha dengan sabar mengajar bahasa Inggris kepada mereka sambil sesekali menyelipkan kata-kata Indonesianya yang terpatah-patah. Wow, it's amazing! Berapa banyak di antara kita yang kira-kira mau melakukan hal ini di Indonesia ini? “Mengajar tukang becak bicara bahasa Inggris, gratis lagi? Mana ada yang mau? Mana mau saya kan sarjana S1 lulusan Universitas ternama, ngapain ngelakuin hal kayak gitu? Ngapain bergaul dengan orang-orang yang suku, status dan agamanya beda ama kita? Ngapain sih mesti susah-susah, lagian mereka kan hanya tukang becak?” Begitu mungkin apa yang ada di benak kita (barangkali).
Iya ya kalau begitu ngapain sih Yesus mesti susah-susah datang ke dalam dunia yang rusak moral, yang sangat egois ini. Ngapain ya 2000 tahun yang lalu Dia mau lahir ke dalam dunia, hidup dan bergaul dengan orang-orang berdosa seperti kita-kita ini? Ngapain dan ngapain? Ngapain sih kita harus merayakan Natal setiap tahun dengan gegap gempita, harus ngeluarin duit kas gereja jut-jutan? Apakah karena benar kita sedang menyambut kelahiran Yesus Sang Raja itu di dalam lubuk hati kita yang terdalam? Ataukah kita sedang terlena dengan tradisi keharusan merayakan Natal karena dari dulu memang sudah begitu? Dari sekolah minggu udah diajarin begitu kok?
Saudara-saudara sekalian, sudahkah kita memahami akan makna Natal sesungguhnya yaitu peristiwa inkarnasi Yesus Kristus yang datang ke dunia bukan dengan kemegahanNya sebagai seorang Raja, bukan dengan kebesaranNya sebagai seorang Penguasa Dunia, tetapi dengan rela mengosongkan diriNya dan semua atribut KerajaanNya, mengambil rupa sebagai manusia seperti saudara dan saya. Ia meninggalkan tahta Surgawi dan datang ke dalam dunia yang masih becek kalau terkena hujan, dunia yang sama dimana saudara dan saya hari ini ada. Bukankah ini semua karena dosa-dosa kita? Bukankah karena Ia tahu bahwa tanpa kedatanganNya ke dalam dunia ini, manusia tidak memiliki pengharapan? Bukankah ini karena Ia harus memilih suatu pilihan sulit, untuk mengasihi BapaNya yang berarti misi utama kedatanganNya di dunia adalah untuk menuju Salib, untuk mati bagi penebusan dosa saudara dan saya?
Kalau demikian, bagaimana seharusnya kita boleh merayakan Natal yang sesungguhnya? Bukankah dengan meneladani inkarnasiNya, dimana Ia mau mengosongkan diriNya menjadi sama dengan kita, melayani manusia yang berdosa dengan senantiasa memberikan diriNya untuk kepentingan orang lain, mati bagi kita semua tanpa memperdulikan status, suku, latar belakang keluarga kita? Bukankah kasihNya terbuka untuk umum (bukan “untuk kalangan sendiri” seperti tertera di pamflet-pamflet acara-acara rohani). Bukankah kasihNya menembus batas-batas kesukuan, status sosial, kepentingan atau kenyamanan diri? Mengapa hari ini kasih kita masih terbatas hanya di dalam tembok-tembok gereja? Bahkan hanya untuk kalangan sendiri, kelompok sendiri?
Kasih itu universal, tidak bisa dibatasi
Kasih itu aktif dan berbuat
Kasih itu melihat kebutuhan orang lain lebih utama dari kebutuhan diri sendiri
Kasih adalah peristiwa agung dimana Allah mengutus Anak TunggalNya untuk datang ke dalam dunia yang berdosa, untuk mati sebagai korban penebusan dosa
Natal adalah Allah yang mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia.
Natal adalah Allah yang Tidak Terbatas menerobos masuk ke dalam dunia yang terbatas, dunia yang diciptakanNya sendiri
Natal adalah ungkapan kepedulian Allah akan keberdosaan manusia yang membuat diriNya harus menembus batas antara hakekat diriNya yang adalah Kasih dan juga Keadilan
Natal adalah perjalanan Sang Ilahi yang menembus batas surgawi dan duniawi untuk mewujudkan karya Salib yaitu penebusan dosa
Natal adalah perjalanan menembus batas-batas kenyamanan diri. Raja di atas segala raja mau lahir di kandang domba yang sederhana.
Maukah kita keluar dari kenyamanan diri kita hari ini, dan pergi menyapa sesama kita yang sedang tersisih dan terbuang, dan memberitakan berita Kasih Surgawi Kelahiran Kristus Sang Juruselamat itu?
Inilah kasih yang menembus batas, kasih yang berbuat, kasih yang melintasi kepentingan atau kenyamanan diri. Selamat merayakan Natal dengan perspektif baru!
Surabaya, 25 November 2004
Christopher Andios
Hari ini kita hidup di era boderless dimana dunia ini telah menjadi dunia yang seolah-olah tiada lagi memiliki batas-batas di dalam seluruh tatanan hidup umat manusia. Kita yang di pelosok desa dapat menikmati sajian MTV, Hollywood, maupun kancah berita internasional terkini seperti CNN maupun Aljazeerah yang dapat kita nikmati hanya melalui sebuah “layar kaca.” Dunia kini dikatakan “global village” atau sebuah kampung internasional. Batas-batas antar negara seolah-olah tidak berlaku lagi. Seluruh tatanan dunia ini bercampur-aduk menjadi satu ala “gado-gado” mbok Inem yang membingungkan dan mencemaskan banyak orang. Tata nilai, moralitas, gaya hidup masa kini sudah tidak bisa lagi ditebak, made in darimana ya? Karena baik orang Amerika maupun orang Ameriki sama-sama bisa menikmati McDonald, pake jeans Levis dan kemeja Giorgio Armani walau tidak tahu asli atau palsu. Semuanya kelihatan sama percis. Kita juga sudah tidak bisa membedakan apakah si Shannon dan si Sariyem itu bule asli atau gak karena keduanya sama-sama berambut pirang. Wah, bingung tenan rek… kata orang Surabaya.
Namun kalau ditelusuri lebih dekat, benarkah bahwa batas-batas di dalam tatanan hidup kita itu telah hilang sama sekali? Kalau benar maka alangkah menakutkan, karena kita tidak akan bisa lagi membedakan antara kebenaran dengan kejahatan, batasan budaya menjadi amburadul, etika dan moralitas menjadi abu-abu dan batasan kehidupan duniawi dan surgawi diabaikan, dunia yang sementara yang terbatas dan kehidupan kekal yang tidak terbatas kehilangan maknanya. Bukankah jelas ini adalah realitas yang berbeda dan tetap ada batasannya? Inikah dambaan kita semua bahwa kita benar-benar menginginkan dunia tanpa batas? Dunia yang meniadakan adanya sekat-sekat, aturan-aturan, norma-norma yang memisahkan antara kebenaran dan kejahatan?
Dan kalau kita mau jujur, bukankah dunia kita hari ini justru terasa kian individualis, primordialis, dan egois? Dimana masing-masing pribadi kian hari kian hidup di dunianya sendiri-sendiri, masing-masing membangun tembok “kehidupan pribadi” nya dengan semakin megah dan kokoh, seolah-olah ingin agar orang lain tidak mengganggu privasinya. Apakah ini dunia yang kita katakan tanpa batas? Mengapa justru manusia satu dengan yang lain kian membatasi dirinya? Mengapa masih ada tembok-tembok suku, ras, golongan, agama, status sosial, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan? Bukankah kalau kita mau jujur, sekat-sekat atau batas-batas dalam kehidupan kita hari ini kian membuat kasih di antara kita semakin pudar dan tidak terlihat lagi? Bukankah hari ini kehidupan kita kian terasa hambar karena masing-masing mengutamakan kepentingan diri lebih dari kepentingan orang lain? Lalu apa maknanya berbicara tentang kasih yang menembus batas? Apakah berarti kasih yang meniadakan batasan sama sekali, atau kasih yang melintasi batas-batas apapun?
Di dalam perenungan ini, saya teringat akan sebuah gambaran yang indah ketika suatu saat di bulan Desember 2000, saya mendampingi teman saya James Wittenberg (anggota YES team) untuk mengajar para tukang becak belajar bahasa Inggris. Sore itu, saya melihat suatu gambaran ilahi, makna inkarnasi Yesus dalam Filipi 2:5-8 terngiang jelas dalam benak saya. James seorang muda yang cakap dan berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Kanada suatu negara yang mapan dan nyaman, mau meninggalkan semuanya itu dan datang ke Indonesia selama 6 bulan untuk melayani Tuhan dan sesamanya. Ya, demi satu misi ilahi, ia rela untuk menembus batas-batas budaya, bahasa dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk menjadi sama dengan saudara-saudaranya yang berbeda warna kulit dan kewarganegaraan. Ia tetap James wong londo, namun mau menjadi sama seperti tukang-tukang becak Terminal Tirtonadi Solo, duduk bersila dan membagikan suatu makna hidup yang lain bagi mereka. Dan sore itu saya melihat dia berusaha dengan sabar mengajar bahasa Inggris kepada mereka sambil sesekali menyelipkan kata-kata Indonesianya yang terpatah-patah. Wow, it's amazing! Berapa banyak di antara kita yang kira-kira mau melakukan hal ini di Indonesia ini? “Mengajar tukang becak bicara bahasa Inggris, gratis lagi? Mana ada yang mau? Mana mau saya kan sarjana S1 lulusan Universitas ternama, ngapain ngelakuin hal kayak gitu? Ngapain bergaul dengan orang-orang yang suku, status dan agamanya beda ama kita? Ngapain sih mesti susah-susah, lagian mereka kan hanya tukang becak?” Begitu mungkin apa yang ada di benak kita (barangkali).
Iya ya kalau begitu ngapain sih Yesus mesti susah-susah datang ke dalam dunia yang rusak moral, yang sangat egois ini. Ngapain ya 2000 tahun yang lalu Dia mau lahir ke dalam dunia, hidup dan bergaul dengan orang-orang berdosa seperti kita-kita ini? Ngapain dan ngapain? Ngapain sih kita harus merayakan Natal setiap tahun dengan gegap gempita, harus ngeluarin duit kas gereja jut-jutan? Apakah karena benar kita sedang menyambut kelahiran Yesus Sang Raja itu di dalam lubuk hati kita yang terdalam? Ataukah kita sedang terlena dengan tradisi keharusan merayakan Natal karena dari dulu memang sudah begitu? Dari sekolah minggu udah diajarin begitu kok?
Saudara-saudara sekalian, sudahkah kita memahami akan makna Natal sesungguhnya yaitu peristiwa inkarnasi Yesus Kristus yang datang ke dunia bukan dengan kemegahanNya sebagai seorang Raja, bukan dengan kebesaranNya sebagai seorang Penguasa Dunia, tetapi dengan rela mengosongkan diriNya dan semua atribut KerajaanNya, mengambil rupa sebagai manusia seperti saudara dan saya. Ia meninggalkan tahta Surgawi dan datang ke dalam dunia yang masih becek kalau terkena hujan, dunia yang sama dimana saudara dan saya hari ini ada. Bukankah ini semua karena dosa-dosa kita? Bukankah karena Ia tahu bahwa tanpa kedatanganNya ke dalam dunia ini, manusia tidak memiliki pengharapan? Bukankah ini karena Ia harus memilih suatu pilihan sulit, untuk mengasihi BapaNya yang berarti misi utama kedatanganNya di dunia adalah untuk menuju Salib, untuk mati bagi penebusan dosa saudara dan saya?
Kalau demikian, bagaimana seharusnya kita boleh merayakan Natal yang sesungguhnya? Bukankah dengan meneladani inkarnasiNya, dimana Ia mau mengosongkan diriNya menjadi sama dengan kita, melayani manusia yang berdosa dengan senantiasa memberikan diriNya untuk kepentingan orang lain, mati bagi kita semua tanpa memperdulikan status, suku, latar belakang keluarga kita? Bukankah kasihNya terbuka untuk umum (bukan “untuk kalangan sendiri” seperti tertera di pamflet-pamflet acara-acara rohani). Bukankah kasihNya menembus batas-batas kesukuan, status sosial, kepentingan atau kenyamanan diri? Mengapa hari ini kasih kita masih terbatas hanya di dalam tembok-tembok gereja? Bahkan hanya untuk kalangan sendiri, kelompok sendiri?
Kasih itu universal, tidak bisa dibatasi
Kasih itu aktif dan berbuat
Kasih itu melihat kebutuhan orang lain lebih utama dari kebutuhan diri sendiri
Kasih adalah peristiwa agung dimana Allah mengutus Anak TunggalNya untuk datang ke dalam dunia yang berdosa, untuk mati sebagai korban penebusan dosa
Natal adalah Allah yang mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia.
Natal adalah Allah yang Tidak Terbatas menerobos masuk ke dalam dunia yang terbatas, dunia yang diciptakanNya sendiri
Natal adalah ungkapan kepedulian Allah akan keberdosaan manusia yang membuat diriNya harus menembus batas antara hakekat diriNya yang adalah Kasih dan juga Keadilan
Natal adalah perjalanan Sang Ilahi yang menembus batas surgawi dan duniawi untuk mewujudkan karya Salib yaitu penebusan dosa
Natal adalah perjalanan menembus batas-batas kenyamanan diri. Raja di atas segala raja mau lahir di kandang domba yang sederhana.
Maukah kita keluar dari kenyamanan diri kita hari ini, dan pergi menyapa sesama kita yang sedang tersisih dan terbuang, dan memberitakan berita Kasih Surgawi Kelahiran Kristus Sang Juruselamat itu?
Inilah kasih yang menembus batas, kasih yang berbuat, kasih yang melintasi kepentingan atau kenyamanan diri. Selamat merayakan Natal dengan perspektif baru!
Surabaya, 25 November 2004
Christopher Andios

0 Comments:
Post a Comment
<< Home